Aku bingung dengan diriku sendiri. Berharap kamu ada disampingku, namun ada di depan matamu walau hanya sekedar lewat saja, aku tak mampu. Berharap memandang wajahmu lebih dekat, namun alasan aku menginginkan itu terjadi saja aku tak tahu. Bahagiaku terlampau sederhana, hanya dengan mengingatmu saat aku sedih, aku berakhir dengan senyuman. Indahku terlalu sederhana hanya dengan memandang wajahmu, aku tahu untuk apa aku hidup. Aku tak ingin gila hanya karna memujamu, menyakiti diri karna sudah tahu kamu bukan untukku. Namun jika sehari tanpa tahu tentangmu saja aku juga sakit. Entah sampai kapan aku begini, asik sendiri, membayangkan sendiri. Bukannya aku tak punya nyali untuk menuruti keinginan hati, namun aku tahu aku. Aku merasa tak pantas untukmu, yang terindah. Lagipula, kamu sudah termiliki dan dia yang sempurna di matamu.
Artificial Intelligence sekarang berkembang sampai ke titik yang bikin gue sering mikir, “serius teknologi bisa sekeren ini?” Gue bukan programmer, tapi perkembangan Machine Learning dan AI bikin banyak hal yang dulu cuma kebayang sekarang bisa gue wujudkan sendiri. Salah satunya kebutuhan sederhana gue: nyatet frekuensi charging motor listrik supaya gue punya histori yang jelas dan bisa mantau kondisi baterai jangka panjang. Gue ini sebenarnya gadget enthusiast dari dulu. Suka banget baca hal teknis, suka nyobain perangkat baru, dan dulu sempat punya mimpi bisa bikin aplikasi sendiri. Bahkan sempat beli buku coding, tapi begitu mulai praktik, kepala langsung pusing. Teori paham, tapi implementasinya bikin gue nyerah. Akhirnya mimpi itu cuma jadi pajangan. Tapi sekarang, dengan AI yang bisa bantu dari ujung ke ujung, proses bikin solusi kecil yang sesuai kebutuhan pribadi jadi jauh lebih mungkin gue lakuin. 1. Kenapa Histori Charging Penting Buat Pengguna Motor Listrik Gue makin n...
Komentar
Posting Komentar