Langsung ke konten utama

Apa Kabar Kenangan?


Kamu adalah alasanku untuk menjadi orang yang lebih baik sampai detik ini, karena beberapa hal yang kamu lakukan dulu menyadarkanku sesuatu. Saat kamu masih menjadi milikku, terasanya aku selalu diingatkan untuk makan ketika sedang sibuk memanjakan hobi. Terkesannya selalu ada yang akan menegorku ketika aku melakukan hal yang sebenarnya salah. Mungkin dulu aku adalah orang yang egois kepadamu, aku adalah orang yang merasa hal baik yang kamu lakukan untukku adalah sesuatu yang berlebihan. Memilih alasan-alasan yang bukan maksudmu, seperti aku merasa dikekang, disuruh, dipaksa bahkan berpikir kamu tidak menerimaku apa adanya. Semua sudah berlalu dan kita bukanlah kita lagi karena kamu yang putuskan untuk mengakhiri semuanya. Jujur, saat semua kata yang kamu persiapkan untuk menyerah rasanya aku tak ingin mendengarnya dan berpendapat semuanya adalah bercanda. Namun, aku melihat matamu yang lelah dengan terpaksa karena memang aku yang sudah keterlaluan. Awal cerita yang dibangun memang selalu indah, lama kelamaan aku sudah tak lagi mendengarkanmu, sibuk dengan hobi-hobiku, tak mengabarimu, hanya datang padamu ketika aku bosan, namun kamu tidak begitu. Kamu selalu ada untukku, bahkan ketika kesibukan harus kamu jalani. Sampai akhirnya aku tersadar ketika semuanya sudah terlanjur, terlanjur pergi. Ketika aku membayangkan jika aku yang menjadi kamu, aku pun akan melakukan hal yang sama. Terluka, sabar dan mencoba merasa dianggap ada yang sebenarnya tidak, semua ada batasnya.

Untuk kamu yang dulu aku anggap angin, sekarang adalah kamu yang berubah menjadi angan.

Terima kasih kenangan.

Postingan populer dari blog ini

Artificial Intelligence Mengubah Mimpi Jadi Solusi Nyata, Tanpa Perlu Bisa Coding

Artificial Intelligence sekarang berkembang sampai ke titik yang bikin gue sering mikir, “serius teknologi bisa sekeren ini?” Gue bukan programmer, tapi perkembangan Machine Learning dan AI bikin banyak hal yang dulu cuma kebayang sekarang bisa gue wujudkan sendiri. Salah satunya kebutuhan sederhana gue: nyatet frekuensi charging motor listrik supaya gue punya histori yang jelas dan bisa mantau kondisi baterai jangka panjang. Gue ini sebenarnya gadget enthusiast dari dulu. Suka banget baca hal teknis, suka nyobain perangkat baru, dan dulu sempat punya mimpi bisa bikin aplikasi sendiri. Bahkan sempat beli buku coding, tapi begitu mulai praktik, kepala langsung pusing. Teori paham, tapi implementasinya bikin gue nyerah. Akhirnya mimpi itu cuma jadi pajangan. Tapi sekarang, dengan AI yang bisa bantu dari ujung ke ujung, proses bikin solusi kecil yang sesuai kebutuhan pribadi jadi jauh lebih mungkin gue lakuin. 1. Kenapa Histori Charging Penting Buat Pengguna Motor Listrik Gue makin n...

Bandung: Tempat Nongkrong, Ngebut, dan Ngalor-Ngidul

Bandung, Kota Penuh Cerita dan Pesona Bandung, ibu kota Jawa Barat yang suka banget dipanggil "Paris van Java." Udara sejuknya, suasananya yang asik, pemandangan cakep, semuanya bikin betah banget. Buat turis, Bandung itu surga. Ada kuliner yang bikin perut nggak mau berhenti ngunyah, tempat wisata alam yang cakep, sampai bangunan-bangunan sejarah yang bikin Instagram lo auto estetik. Tapi buat gue, Bandung tuh bukan cuma destinasi liburan. Ini rumah. Tempat gue dibentuk jadi kayak sekarang, tetap seorang manusia.  Sebelum lanjut, lagu "Untungnya Hidup Harus Berjalan" Bernadya, kayaknya pas menemani tulisan ini.  Kenangan Bocil di Lembang Gue kecil sering pindah-pindah domisili, gara-gara bokap menyesuaikan sama kerjaannya. Tapi dari semua tempat yang pernah gue singgahin, Lembang paling juara di hati. Dari SD gue udah tinggal di situ. Tempat gue belajar makna persahabatan, tanggung jawab, sama kehidupan ala bocil yang sering main sepeda bmx. Lo tau nggak? Kebun teh...

Masih di Sampul yang Sama

Semua sudah berbeda , menjadi asing. Sebelumnya, aku dan kamu adalah  kita . Aku tidak pernah berusaha mengingat dengan sengaja, padahal aku rasa itu jauh lebih baik. Tapi ini, sebaliknya. Rasanya sakit tapi tidak berdarah.  Kota, jalan, tempat itu, semua kenangan yang tercipta saat lalu, menjadi selalu. Entah berapa hati yang ada setelah cerita kita selesai, tepatnya selesai bagimu.  Mau berapa kali pun kamu menjelaskan alasan kamu pergi, aku tidak percaya kalimat itu pernah ada. Halaman demi halaman yang berjalan di hidupku saat ini memang baru, tapi kamu bukan sekedar halaman awal, tapi aku masih menjadikanmu sampul yang tidak terganti.  Bagaimana caranya melupakanmu, jika kebencian pun masih menyisakan rindu?