Langsung ke konten utama

Tanpa Arti


Aku pikir, kebersamaan yang tercipta adalah bahagia kita yang sejati. Nyatanya kamu masih berpikir tentangnya, walaupun kini kamu bersamaku dalam satu ikatan. Aku yang diam namun tersadar ini, merasa kamu lebih terasa indah dengan yang lalu, tetapi seakan terbaikmu itu aku atau malah aku hanya jalanmu kembali. Kamu salah, aku pun salah yang tak bisa membuatmu memiliki rasa yang terulang atau bahkan lebih daripadanya yang membekas. Keadaan yang membuat kita bersama dan mencoba untuk saling menanam benih cerita dan cinta. Aku sudah larut kedalam dirimu, tetapi mungkin kamu tidak dan mencoba menghargai apa yang aku lakukan. Tetapi bukan itu mauku, jujur saja dan katakan yang sebenarnya. Pergilah, selagi semua belum terlanjur lebih lagi. Aku rela jika dengan hilangnya kita, kamu merasa lebih bahagia dengan hatimu. Walaupun aku tak tahu apa salahku yang jelas, tapi ini inginku. Mungkin memang niatmu bukan mempermainkan, tetapi hanya menerjunkanku saat semua yang indah diatas langit sana sudah ingin memeluk kita. 

Jika suatu saat kamu mencoba kembali ke hati ini, mungkin aku sudah lebih baik. Lebih baik untuk memastikan kamu bahagia dengan dia yang tak membuatmu pergi, tanpa sirik.

Ini aku, yang mengartikanmu dengan hati.
Itu kamu, yang menganggapku sehati namun tanpa arti. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Artificial Intelligence Mengubah Mimpi Jadi Solusi Nyata, Tanpa Perlu Bisa Coding

Artificial Intelligence sekarang berkembang sampai ke titik yang bikin gue sering mikir, “serius teknologi bisa sekeren ini?” Gue bukan programmer, tapi perkembangan Machine Learning dan AI bikin banyak hal yang dulu cuma kebayang sekarang bisa gue wujudkan sendiri. Salah satunya kebutuhan sederhana gue: nyatet frekuensi charging motor listrik supaya gue punya histori yang jelas dan bisa mantau kondisi baterai jangka panjang. Gue ini sebenarnya gadget enthusiast dari dulu. Suka banget baca hal teknis, suka nyobain perangkat baru, dan dulu sempat punya mimpi bisa bikin aplikasi sendiri. Bahkan sempat beli buku coding, tapi begitu mulai praktik, kepala langsung pusing. Teori paham, tapi implementasinya bikin gue nyerah. Akhirnya mimpi itu cuma jadi pajangan. Tapi sekarang, dengan AI yang bisa bantu dari ujung ke ujung, proses bikin solusi kecil yang sesuai kebutuhan pribadi jadi jauh lebih mungkin gue lakuin. 1. Kenapa Histori Charging Penting Buat Pengguna Motor Listrik Gue makin n...

Bandung: Tempat Nongkrong, Ngebut, dan Ngalor-Ngidul

Bandung, Kota Penuh Cerita dan Pesona Bandung, ibu kota Jawa Barat yang suka banget dipanggil "Paris van Java." Udara sejuknya, suasananya yang asik, pemandangan cakep, semuanya bikin betah banget. Buat turis, Bandung itu surga. Ada kuliner yang bikin perut nggak mau berhenti ngunyah, tempat wisata alam yang cakep, sampai bangunan-bangunan sejarah yang bikin Instagram lo auto estetik. Tapi buat gue, Bandung tuh bukan cuma destinasi liburan. Ini rumah. Tempat gue dibentuk jadi kayak sekarang, tetap seorang manusia.  Sebelum lanjut, lagu "Untungnya Hidup Harus Berjalan" Bernadya, kayaknya pas menemani tulisan ini.  Kenangan Bocil di Lembang Gue kecil sering pindah-pindah domisili, gara-gara bokap menyesuaikan sama kerjaannya. Tapi dari semua tempat yang pernah gue singgahin, Lembang paling juara di hati. Dari SD gue udah tinggal di situ. Tempat gue belajar makna persahabatan, tanggung jawab, sama kehidupan ala bocil yang sering main sepeda bmx. Lo tau nggak? Kebun teh...

Masih di Sampul yang Sama

Semua sudah berbeda , menjadi asing. Sebelumnya, aku dan kamu adalah  kita . Aku tidak pernah berusaha mengingat dengan sengaja, padahal aku rasa itu jauh lebih baik. Tapi ini, sebaliknya. Rasanya sakit tapi tidak berdarah.  Kota, jalan, tempat itu, semua kenangan yang tercipta saat lalu, menjadi selalu. Entah berapa hati yang ada setelah cerita kita selesai, tepatnya selesai bagimu.  Mau berapa kali pun kamu menjelaskan alasan kamu pergi, aku tidak percaya kalimat itu pernah ada. Halaman demi halaman yang berjalan di hidupku saat ini memang baru, tapi kamu bukan sekedar halaman awal, tapi aku masih menjadikanmu sampul yang tidak terganti.  Bagaimana caranya melupakanmu, jika kebencian pun masih menyisakan rindu?